Cek Harga Tiket Pesawat di Utiket
Domestic
Internasional
Layanan Pelanggan Via YM
  • Marketing :
  • Informasi :

Dream To Minang > Nature

 

Nature

Pada masa dahulu kala diwaktu penduduk pribumi di daerah alam Minangkabau sekarang masih dalam keadaan primitive sekali, yakni dalam keadaan “prohomasquiteit”, dimana belum ada hukum dan peraturan yang mengatur hidup dan menyusun masyarakat setempat, yang zamannya pada waktu itu

tidak dapat diketahui dengan pasti apakah zaman itu zaman prasejarah, atau zaman batu maupun zaman besi yang jelas penduduk pribumi pada waktu itu masih hidup secara liar, belum mempunyai rumah untuk tempat diam yang teratur, belum bersawah dan berladang, belum beternak ayam dan itik, belum memelihara kerbau dan jawi, banteng, belum hidup ber-kelompok2, belum hidup ber-puak2 bahkan belum ber-suku2 seperti masyarakat alam Minangkabau sekarang ini.

Sehingga menjadi omongan bagi orang Minangkabau sampai sekarang

“ Waktu gunung Merapi sebesar telur itik”

Yang maksudnya ialah bahwa ilmu pengetahuan dan kebudayaan di daerah Minangkabau sekarang ini pada waktu  belum ada sama sekali, yang sudah ada hanya kodrat alam se mata2 dimana mungkin penduduk pribumi dimasa itu masih berdiam di gua2 batu memakan umbi2 kayu dan memburu binatang2 liar dihutan yang lebat.

Kalaupun sudah ada padi, jagung dan ber macam2 umbi2 kayu dan akar lainnya, maka semuanya itu adalah jenis tumbuh2an yang hidup secara liar, dan belum teratur perencanaannya seperti sekarang ini, dan kemudian diaturlah dan dikumpulkanlah biji2 tumbuh2an tersebut dan dimulailah menanamnya secara teratur dengan membuka hutan perladangan atau perhumaan,menurut kebutuhan keluarga masing2 yang lama kelamaan ber ansur2lah membuka ladang padi, ladang jagung, ladang umbi2 kayu dan akar lainnya dihutan yang dibuka baru disekitar tempat kediamannya yang masih sangat primitif sekali kalau dibandingkan dengan keadaan masyarakat sekarang ini.

Manakalah di tempat2 perladangan itu sudah panen, dan mereka anggap tanahnya kurang subur lagi untuk tanam2an maka dibuka pulalah hutan yang baru ditempat yang lain yang dianggap baik, yang biasanya tanah hutan dan perhumaan itu, dipilih yang dekat ke pinggir2 sungai atau dikaki bukit dan pegunungan, yang dapat memberi penghidupan yang mudah dan layak bagi mereka seperti perlindungan dari ancaman2 binatang buas, serta memudahkan pengangkutan dengan jalan air dan sesuai pula dengan kehidupan mereka yang selalu ber-pindah2 dari satu tempat ketempat yang lain yang agak berjauhan letaknya.

Sebab apabila salah seorang dari keluarganya meninggal dunia dan dikuburkan ditempat itu, maka mereka harus meninggalkan tempat itu karena menurut anggapan mereka tempat itu adalah sial dan kurang baik untuk didiami selajutnya.

Sisa2 dari penduduk pribumi ini masih dapat kita lihat sampai sekarang ini seperti orang Talang Mamak di Indragiri, orang Kubu didaerah Jambi, orang Kampar didaerah Pasaman dan orang Sakai di daerah Pakanbaru yang semuanya mengaku berasal dari tanah Minangkabau sekarang ini.

Mereka mempunyai adat istiadat tersendiri dan lebih murni, dan tidak suka menerima adat istiadat dan kebudayaan baru dari para pendatang2 yang telah mempunyai banyak kemajuan dalam segala hal dari mereka itu, dan mereka lalu melarikan diri ke hutan2 yang lebat yang belum pernah dijamah oleh manusia lainnya, demi untuk menghidarkan diri dari pengaruh2 kebudayaan yang dibawa oleh pendatang2 baru itu yang akibatnya ternyata sampai sekarang  masih biadab tempatnyapun jauh terpisah dari masyarakat ramai.

Seandainya tempatnya yang sekarang ini -dalam hutan- terancam oleh bahaya atau oleh pihak lainnya, karena sumber kekayaan alam ataupun oleh karena perluasan kota dan lain2 keperluan bagi masyarakat dan Negara maka mereka tidak keberatan pergi lagi dari situ meninggalkan tempat asalnya, dan pindah lagi ketempat lain, kehutan belentara yang jauh terpencil letaknya dan belum pernah ditempuh dan dijamah oleh tangan manusia lainnya.


Ke Beranda