Cek Harga Tiket Pesawat di Utiket
Domestic
Internasional
Layanan Pelanggan Via YM
  • Marketing :
  • Informasi :

Mentawai > History

 

History

The  PEOPLE  and  The  BELIEFS

 There is no clear indication of when man first arrived on Mentawai islands, but judging from their language, cultural level, and physical characteristics, the people seem to be representatives of some of the earliest Homo Sapiens Sapiens to come to Indonesia. Most anthropologists classify them as” proto-Malay”having essentially a Neolithic culture with some Bronze Age influence but not being affected by Buddhism, Hinduism, or Islam.

 The people originally were animists, believing that  everything from people to monkeys, stone to weather, had its own spirit which has quite separate from its “host” and was there to wander as it wished. The basic principle of the regilion is a conception of internal harmony in creation,  with one religious force behind as in most archaic religions, they concentrate more on the various manifestations of the creation : the spirits or souls.

These spirits are in constant harmonious contact with each other, but man’s activities constantly threaten to disturb this harmony. In order to reduce the disturbance and to restore the balnce of the creation, the people accompany all their activities with Various religious ceremonies, broadly referred to as “ puliaijat ” or  “ punen ” on the southern islands.

During these ceremonies, broadly the people pray and make offerings to the spirits which constitute “ the beyond “ and they make beautiful decorations and carvings to please the souls or spirits.

 

 

PENDUDUK  DAN  KEPERCAYAAN

Tidak terdapat petunjuk kapan orang pertama sampai di Kepulauan mentawai tetapi dari bahasa yang mereka pergunakan, tingkat kebudayaan, dan ciri – ciri fisiknya, Nampak bahwa suku Mentawai berasal dari Homo Sapiens – sapiens yang paling awal dating ke Indonesia. Para anthropolog menggolongkan mereka ke dalam rumpun “ Proto – malay “ berkebudayaan Neolitik, mendapat pengaruh dari zaman Perunggu, namun bukan oleh Buddhisme, Hinduisme atau Islam.

Pada awalnya penduduk menganut paham animisme yang percaya bahwa segala sesuatu mulai dari manusia hingga kera, batu hingga cuaca, mempunyai roh yang terpisah dari “ raganya “ serta bebas berkeliaran seperti yang dikehendakinya. Prinsip kepercayaannya adalah keselarasan penciptaan, denagn suatu kekuatan regilius di balik semua hal yang disebut “ kina ulau “ atau “ diluar jangkauan “.

Seperti kebanyakan kepercayaan kuno, mereka lebih memusatkan pada berbagai manifestasi penciptaan roh atau jiwa. Roh – roh ada dalam hubungan tetap yang selaras satu sama lain, justru kegiatan manusia sering merusak keselarasan itu. Agar kembali seimbang, mereka melakukan berbagai upacara keagamaan yang di daerah kepulauan bagian selatan disebut dengan “ puliaijat “ atau “ punen “.

Selama upacara – upacara berlangsung, penduduk memberikan persembahan kepada roh – roh halus dengan membuat  hiasan dan ukiran – ukiran yang indah agar jiwa atau roh tersebut menjadi senang.

 

            

 


History

The  HISTORY  of  SEPARATION

 During the Pleistocene Epoch, roughly the period from one million years ago to 10,000 years ago, there were times during ice ages when the  sea level in south east Asia was up to 200 meters lower than it is today, connecting Sumatra with java, Borneo, and the mainland. This allowed a relatively free interchange of species of animals and accounts for the general similarity in the faunas of the three major island.

 However, Mentawai and appear tohave remaned isolation from the mailands are separated from the mainland of Sumatra by the deep Mentawai basin, averaging about 4,500 meters deep. Mentawai’s only possible Pleistocene connection is through the Batu islands in the north, but even if this connection werw made, it was fleeting and long ago. Siberut and the Mentawai island have thus been essentially oceanic islands for about 500,000 years and their Fauna and Flora and have evolved in isolation from the dynamic evolutionary events on the Sunda Shelf.

 

 

SEJARAH  KETERPISAHAN

 Pada zaman Pleitocene (Zaman Es), kira – kira satu juta sampai 10.000 tahun yang lalu, permukaan air laut di daerah Asia Tenggara 200 meter lebih rendah dari yang sekarang, Sumatra menyatu dengan Jawa , Kalimantan, dan Benua Asia. Hal ini menyebabkan adanya pertukaran bebas diantara jenis – jenis binatang, juga adanya persamaan unum diantara fauna – fauna dari ketiga pulau besar tersebut.

 Namun, Kepulauan Mentawai tetap terpisah dari daratan Sumatra oleh laut sedalam15000 meter sekurang – kurangnya sejak masa Pleitocene Mntawai ialah melalui kepulauan Batu di sebelah utara. Tetapi andaikan hubungan ini memang ada, keadaan ini sudah sejak lama lenyap. Dengan demikian Kepulauan Mentawai merupakan pulau – pulau asli sejak kira – kira 500.000 tahun yang lalu, Fauna – floranya terpelihara dari perubahan – perubahan evolusi dinamis seperti pada daerah – daerah bagian Sunda kecil lainya.

 


Mentawai

Mentawai merupakan kepulauan yang terdiri dari beberapa puluh pulau. Pulau yang paling besar ada tiga, yakni Pulau Siberut, Pulau Pagai, dan Pulau Sipora. Di antara ketiga pulau tersebut, pulau yang paling besar adalah Pulau Siberut dengan luas 4.480 km2. Sejak era otonomi daerah, pulau-pulau Mentawai tidak lagi termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Padang Pariaman, melainkan menjadi kabupaten tersendiri, yaitu Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan ibukota di Pulau Pagai dan termasuk wilayah Provinsi Sumatra Barat.

Jarak Kepulauan Mentawai dari Kota Padang kurang lebih 135 km melintasi Samudra Hindia yang luas dengan ombak yang tinggi dan sering ganas. Oleh karena itu, transportasi menuju ke kepulauan ini sangat tergantung kepada cuaca; apabila sedang musim badai maka jarang ada kapal yang berani melintasinya. Keadaan ini sudah berlangsung selama berpuluh bahkan beratus tahun yang lalu sehingga membuat Kepulauan Mentawai menjadi seperti "terisolir." Akan tetapi, kondisi ini sesungguhnya sangat menguntungkan di mana Kepulauan Mentawai dengan segala isinya tumbuh dengan unik, terutama flora dan fauna yang hanya ada di Kepulauan Mentawai.

Kondisi ini secara tidak langsung juga membuat masyarakat yang tinggal di dalamnya dan budaya yang dimilikinya memunyai ciri khas tersendiri, mengikuti keadaan alamnya. Merupakan hal yang wajar apabila daerah Mentawai menjadi salah satu kawasan yang dilindungi di Indonesia sebagai “cagar bioster”. Kawasan Taman Nasional Siberut ditetapkan berdasarkan SK Menteri Kehutanan no 407/Kpts-II/93 yang berlaku surut sejak 1992.


Ke Beranda