Cek Harga Tiket Pesawat di Utiket
Domestic
Internasional
Layanan Pelanggan Via YM
  • Marketing :
  • Informasi :

Minang In Brief > Education

 

Education

D. TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN DI MINANGKABAU.

Seperti telah diuraikan dibagian terdahulu bahwa semenjak awal abad ke 20 telah bermunculan sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan yang didirikan dan dibina oleh tokoh-tokoh pendidik yang sangat erat pertaliannya dengan sikap penjajahan Belanda yang bersifat diskriminatif dalam penyelenggaraan pendidikan dan pemerintahan pada umumnya, seperti berikut ini :

1. SYAKH HAJJI ABDULLAH AHMAD.

Lahir di Padang Panjang pada tahun 1878 dari keluarga Ulama,  Ayah beliau bernama hajji Ahmad, mendapat pendidikan umum di sekolah Melayu Padang Panjang serta pendidikan agama dari ayahnya. Dalam usia 17 tahun yaitu pada tahun 1895 beliau naik haji dan menetap di Mekah selama 4 tahun untuk memperdalam ilmu Agama pada ulama besar Islam asal Koto Gadang ,Minangkabau yang bernama SYEKH AHMAD KHATIB,pada tahun 1899 beliau kembali ke tanah air. Tahun 1904 beliau membuka pendidikan agama di Surau Jambatan Basi Padang Panjang.

Sejak itu semangat pembaharuan pendidikan semakin berkembang dalam dirinya. Untuk memenuhi asrat hatinya itu didirikanlah sekolah Adabiah ( Adabiah School ) pada tahun 1909 di Padang yang sampai sekarang tetap berkembang dan hidup dengan megah. Tahun 1920 didirikanya pula Perkumpulan Guru – Guru Agama Islam ( PGAI ) yang berpusat di Padang.

Dalam Kongres Islam se dunia di Mesir pada tahun 1929 beliau bersama  Syekh haji Abdul Karim Amarullah mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Kairo sebagai pengakuan terhadap keahlianya tentang Islam.

Pada tanggal 25 Nopember 1933 beliau wafat dengan meninggalkan jasa yang tak terimbangi besarnya, sebagai balas jasa Gubernur Sumatera Barat pada tanggal 17 Agustus 1974  memberikan Piagam Penghargaan yang ditetapkan sebagai Pahlawan Daerah dengan Surat Keputusan nomor 4-117 / GSB / 1974.

 

2. ROHANA KUDUS.

Dilahirkan di Koto Gadang pada tanggal 28 Desember 1884, beliau pelopor emansipasi wanita di daerah ini. Perempuan yang selama ini hanya hidup sebagai mengurus rumah tangga dan anak, dirubahnya menjadi orang yang hidup bahu membahu dengan kaum lelaki. Usahanya itu dimulainya dengan mengajar teman sebayanya menulis dan membaca sejak umur 12 tahun. Pada tahun 1905 didirikanya sekolah Gadih di Koto Gadang. Enam tahun kemudian didirikanya pula Perkumpulan Perwempuan Minangkabau yang diberi nama “ KERAJINAN AMAI SETIA ”. Tidak terbatas hingga itu saja ROHANA KUDUS pada tahun 1912 mendirikan pula sebuah Harian “ SUNTIANG MELAYU “.

 

3. SYAEKH HAJI MUHAMMAD THAIB UMAR.

Lahir di Sungayang Batu Sangka, mendapat pendidikan agama dari ayah beliau Umar Bin Abdul Kadir yang kemudian dilanjutkan kepada Haji Abdul Manan di Surau Talo Padang gantiang. Kemudian bersama ayahnya naik haji dan menetap di Mekah selama 5 tahun dan memperoleh Ilmu Agama dari SyekhAdmad Khatib. Sekembali dari Mekah beliau mendirikan pengajian Kitab di Surau Tanjuang Pauah Sungayang. Banyak murid beliau yang dapat menamatkan pelajaran dengan baikdiantaranya : Muhammad Yunus dari Sungayang, Adam dari Pandai Sikek Padang Panjang, Ahmad dari Sumaniak dan lain-lain. Disamping itu beliau juga seorang pengarang dari majalah Al-Munir.

 

4. SYEKH HAJJI ABDUL KARIM AMARULLAH.

Terkenal sebagai Ulama besar yang sangat gigiah melakukan pembaharuan Pendidikan Islam baik secara klasikal maupun secara tabligh.Beliau lahir di Maninjau opada tanggal 10 Pebruari 1879, setelah mendapat ilmu-ilmu agama dari ayah beliau dan Tuanku Sutan Muhammad Yusuf di Sungai Rotan Piaman beliau dalam usia 15 tahun naik haji dan menetap di Mekah selama 7 tahun belajar pada ulama besar seperti Syekh Ahmad Khatib, Syekh Haji Thahir Jalaluddin dan Syekh Usman Sarawak.

Tahun 1901 beliau pulang ke Tanah Air tetapi tak lama kemudian berangkat lagi ke Mekah dan bermukim pula disana selama 5 tahun, tahun 1906 baru kembali ke Maninjau,kemudian pindah dan kerjasama dengan Syekh Abduah Ahmad dalam mebina majalah Al-Munir.  Pada tahun 1914 mengahar di Surau Jambatan Basi Padang Panjang yang kemudian dikembangkan menjadi Sumatera Thawalib. Tahun 1923-1941 beliau kembali bermukim di Maninjau, sampai belanda mengasingkanya ke Sukabumi akibat ketajaman penanya dalam mengkritik penjajahan Belanda.Tanggal 2 Juni 1945 beliau kembali ke Rahmatullah setelah berjuang meningkatkan martabat Bangsa dengan memakai senjata pembaharuan pendidikan agama Islam.

 

5. SYEKH MUHAMMAD JAMIL JAMBEK.

Terkenal sebagai pelopor Dakwah di Minangkabau. Beliau tidak saja mengajar di Suraunya Tangah Sawah Bukit Tinggi, tetapi beliau juga pergi ke pelosok-pelosok nagari untuk bertabligh tanpa mengharapkan balasan apapun juga. Beliau lahir than 1860, mula-mula mendapat pendidikan di sekolah Governemen, sampai tahun 1882 hidup sebagai pareman ( Parewa ), tetapi kemudian pintu hatinya dibukakan Tuhan untuk bertobat dan menuntut ilmu Agama Islam. Beliau belajar mengaji Ilmu Al-Quran, Ilmu Nahu, Syaraf dal lain-lain. Pada tahun 1895 beliau naik haji dan menetap pula di Mekah selama 9 tahun dan belajar pada Syekh Ahmad khatib dan Ulama-Ulama besar lainnya.

Beliau terkenal sebagai ahli Ilmu Falaq yang dapat menetapkan hari awal dan hari akir Puasa serta datangnya gerhana Matahari dan gerhana Bulan. Di zaman Jepang beliau mendirikan Majelis Islam Tinggi Minagkabau. Tanggal 30 desember 1947 beliau berpulang kerahmatullah. Sebagai balas jasa atas perjuangan beliau dalam pembaharuan pendidikan agama Islam beliau diberi tanda penghargaan  oleh Gubernur Sumatera Barat tanggal 17 Agustus 1974.

 

6. ZAINUDDIN LABAI EL-YUNUSI.

Lahir pada tahun 1890 di Padanng Panjang.Terkenal dengan Diniyah School yang didirikanya di Padang Panjang tahun 1915. Disamping itu beliau juga seorang pengarang yang produktif sebagai penulis dalam majalah Al-Munir yang dipimpin Syekh Abdullah Ahmad dan majalah Al-Akbar yang dipimpinya sendiri, maupunn sebagai pengarang buku pelajaran agama yang digunakan utnuk pelajaran di Diniyah School.

Tokoh muda Islam ini tidak dapat mengabdikan dirinya sebagai pendidik dan pembaru alam pikiran masyarakat Minangkabau, karena tahun 1924 beliau berpulang ke rahmatullah. Walaupun demikian gagasan dan rintisanya tetap hidup dan berkembang berkat ketangguhan dan kegigihan saudaranya yang amat terkenal yaitu Rangkayo Hajjah Rahmah El-Yunusiah.

 

 7. SYEKH IBRAHIM MUSA PARABEK.

Lahir di Parabek Bukit Tinggi pada tahun 1884. Setelah mendapat pendidikan dasar-dasar Islam, pada usia 18 tahun beliau berangkat ke Tanah Suci Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan berdiam disana selama 8 tahun. Untuk memperdalam ilmu agama beliau belajar pada Syekh Ahmad Khatib seperti halnya dengan teman-teman yang lainya dari Minangkabau.

Sekembalinya dari tanah suci baliau mulai mengajar dengan memakai system halaqah dan ini berlaku selama 11 tahun.Kemudian melihat perkembangan pendidikan agama di Padang Panjang, maka tahun 1921 dibukalah sekolah agama Islam dengan memakai sistim klasikal dan diberi nama Sumatera Thawalib Parabek.

Pada tahun 1940 didirikan pula Kulliahtul Dinayah setingkat dengan MAN sekarang, sebagai sekolah lanjutan dari Sumatera Thawalib. Beliau wafat pada 23 juli 1963 dengan meninggalkan perguruan yang sampai sekarang tetap berkembang. Seperti tokoh pembaharu pendidikan lainya Syekh Ibrahim musa Parabek juga mendapat Piagam Penghargaan dari Gubernur Sumatera Barat dan Uang tunai Rp.100.000 pada tahun 1974 yang diserahkan secara resmi kepada keluarganya.

 

 

8. MUHAMMAD SYAFE’I

Muhammad Syafei adalah anak angkat dari seorang guru dan pengaran yang bernama Marah Sutan, beliau lahir pada tahun 1899.Mula-mula mendapat pendidikan sekolah guru di Bukit Tinggi dan tamat dari sana mengajar di sekolah Kartini di Jakarta.Pada tahun 1922 beliau pergi ke Eropa melanjutkan pendidikanya dan mendapat Ijazah Guru Eropa,menggambar, pekerjaan tangan dan Musik. Sekembali dari Eropa didirikanya sebuah sekolah yang terkenal dengan nama INS ( Indonesich Nederlandch School ) di Kayu Tanam . Prinsip pendidikan yang diterapkanya adalah “Berdiri Sendiri tanpa mau menerima bantuan yang mengikat dan semua alat-alat serta ruang sekolah di buat sendiri oleh murid-murid.

Pada tahun 1946 beliau menjadi Menteri Pendidikan, kemudian menjadi anggota DPA pada tahun 1955 menjadi anggota Parlemen.Beliau berpulang kerahmatullah pada tahun 1969, namun INS Kayu Tanam hasil binaanya tetap berdiri utuh.

 


education

C. PENDIDIKAN DI MINANGKABAU MASA PENDUDUKAN JEPANG.

Pendidikan dimasa pendudukan Jepang mengalami kemunduran dan kesuraman jika dibandingkan dengan masa penjajahan Belanda, walaupun dimasa Belanda terdapat juga penekanan-penekanan dari pemerintah colonial tersebut.

Prinsip kedatangan Jepang di Indonesia seperti kedatanganya ditempat-tempat lain hanya untuk memenangkan peperangan dalam mencapai ide Kemakmuran bersama Asia Timur Raya dibawah pimpinan Jepang.

Sehubunagn dengan itu tujuan pelaksanaan pendidikan dimasa Jepang itu adalah untuk mendapatkan tenaga Cuma-Cuma dan prajurit untuk membantu peperangan yang sedang dilakukan. Semuan kegiatan pendidikan diarahkan kepada pendidikan Militer. Disamping itu tenaga anak-anak sekolah doserap untuk melakukan Gotong-Royong setiap harinya di sekitar sekolah,di kebun-kebun, ikut membuat jalan dan sebagainya. Dengan demikian pendidikan dalam kelas hamper tidak terlaksana.

Jenjang sekolah di Minangkabau waktu itu terdiri dari Sekolah Dasar 6 tahun yang disebut dengan nama Sekolah Nippon Indonesia ( SNI ) atau dalam bahasa Jepang disebut Kokumin Gakko. Lanjutan dari Kokumin Gakko ini adalah Sekolah Menengah yang di sebut juga dalam bahasa Jepang Chu Gakko. Disamping itu terdapat pula sekolah kejuruan yakni Sekolah Pertanian, Teknik, Sekolah Polisi dan Pamong Praja, yang kesemuanya dipersipkan utnuk kepentingan perang Jepang.

Sekolah dan Perguruan kebangsaanpun tidak dapat berkembang menurut semestinya, karena Jepang mencurugainya. Hanya sekolah yang dapat secara langsung diawasi oleh Jepang, itulah yang diperbolehkan melakukan kegiatan pendidikan seperti Taman Siswa dan Muhammadiyah. Namun demikian diperoleh juga  beberapa keuntungan jika ditinjau dari sudut kepentingan dan perjuangan Bangsa:

 Pertama; semua sekolah diseragamkan. Seluruh sekolah dasar disamakan pendidikan dan kurikulumnya, begitu juga sekolah Menengah dan sekolah Kejuruan, tidak seperti dimasa penjajahan Belanda yang membeda-bedakan kurikulum dan tahun pendidikan seperti adanya Sekolah Desa 3 tahun, sekolah sambungan 2 tahun, HIS 7 tahun dan lain-lain.

Kedua; Bahasa Indonesia dijadikan bahasa resmi di sekolah dan Jawatan-jawatan.

Ketiga; Latihan Meiliter merata dikalangan masyarakat, mulai dari anak-anak sampai orang tua berupa latihan Seinendan, Kaibodan, Bogodan, bahkan ada yang khusus dilatih menjadi Militer yaitu berupa Heiho dan Ghuyun yang dipusatkan pendidikanya di Padang dan Bukit Tinggi.

 

 


Education.

PENDIDIKAN DI MINAGKABAU MASA PENJAJAHAN  BELANDA

 Dimasa penjajahan Belanda berkembang dua bentuk pendidikan yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh kolonialisme Belanda yang ditujukan untuk kepentingan pelaksanaan penjajahan Belanda dan pendidikan pergerakan nasional yang diselenggarakan oleh tokoh-tokoh pendidikan kebangsaan yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan putra-putri bangsa yang sekaligus dipersiapkan mengusir penjajah.

 Belanda yang pertama kalinya dating di bumi Indonesia pada umumnya, di Minangkabau khususnya memakai bendera dagang yang terkenal dengan sebutan VOC ( Verenigde Oost Indische Compagnie ) belum lagi memperhatikan pelaksanaan pendidikan. Karena kedatangan mereka bertujuan untuk berdagang dan mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya dari bumi Indonesia. Hal ini terlihat dari usaha mereka yang sangat minim dalam aspek pendidikan.

 Sampai tahun 1799 hanya tercatat sejumlah 37 orang murid-murid binaan VOC. Keadaan ini berlangsung sampai VOC dibubarkan pada penghujung tahun 1799. Sepeninggal VOC, Indonesia langsung dikelola oleh badan pemerintahan yang terkenal dengan nama pemerintahan Hindia Belanda ( Nederlhandshe Indie ) semenjak tahun 1816 setelah melalui peralihan pemerintahan Daendels dan Raffles. Mengingat kepentingan penjajahan yang semakin kompleks maka diperlukan tenaga-tenaga pengelola yang banyak dan murah seperti untuk pelaksanaan pemerintahan, bekerja di onderneming-onderneming dan lain-lain.

 Terlebih lagi sesudah perlawanan Tuanku Imam Bonjol berakhir pada tahun 1837. Untuk keperluan tersebut mulailah didirikan sekolah-sekolah tingkat dasar yang kemudian disusul dengan mendirikan sekolah-sekolah tingkat pertama dan atas. Pada tahun 1853 mulai didirikan sekolah dasar yang pertama di Sumbar yang terkenal dengan nama:

 - Pertama Sekolah Kelas Dua ( Governements Inlandsche School ) .

- Kedua Sekolah Kelas Satu ( Governements Inlandsche de Eerste Klasse ),

- Ketiga Sekolah Desa ( Volkschool ),

- Sekolah Sambungan ( Vervolgschool ),

- Sekolah Peralihan dari Sekolah Desa ke HIS (Schakeschool), dan

- HIS ( Hollandsch Indische School ).

 Kesemuanya adalah untuk sekolah anak-anak Indonesia, kecuali HIS untuk anak-anak Belanda. Khususnya untuk anak-anak Belanda didirikan Sekolah Rendah Eropah ( Eroopesche Lagere School ) yang terkenal dengan sebutan ALS, untuk anak-anak Cina didirikan Hollands Chinese School ( Sekolah Cina Belanda ) yang terkenal dengan sebutan HCS.

 Pada tahun 1856 didirikan Sekolah Raja ( Kweek School ) yang merupakan sekolah menengah tingkat pertama yang mula-mula didirikan di Sumatera Barat yaitu di Bukittinggi. Tamatan sekolah ini terutama dipekerjakan sebagai guru disamping sebagai pegawai pemerintahan dan kejaksaan. Selanjutnya berdiri pula sekolah Normal ( Normal School ) di Padang Panjang pada tahun 1916 yang kemudian dilanjutkan pula dengan pendirian Sekolah Normal khusus untuk wanita, MULIQ ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijjs ) = SMP, Sekolah Pertukangan, Sekolah Teknik dan Sekolah Kejuruan Wanita.

 Kemudian juga didirikan Sekolah Menengah Tingkat Atas yang terkenal dengan nama AMS ( Algemeene Middelbare School ). Di Minangkabau AMS inilah sekolah yang tertinggi di masa penjajahan Belanda. Meskipun maksud Belanda mendirikan sekolah-sekolah tersebut di atas untuk mendapatkan tenaga-tenaga murahan dari penduduk asli Indonesia, namun dibalik itu secara tidak langsung Belanda telah menciptakan kelompok Intelektual Indonesia, berilmu Barat, tetapi berjiwa Nasional yang nanti muncul sebagai pejuang-pejuang bangsa seperti terlihat antara lain pada tokoh H. Abdulah Ahmad, Rohana Kudus, M. Syafei, H. Agus Salim, Dr.Mohammad Hatta dan lain-lain.

 Berbarengan dengan berdirinya sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh colonialisme Belanda, semenjak awal abad ke 20 bermunculan pula sekolah-sekolah dan pusat-pusat pendidikan di daerah Minangkabau yang didirikan  dan dibina oleh tokoh-tokoh pendidik di daerah ini. Kehadiran sekolah-sekolah yang bersifat kebangsaan ini pada prinsipnya didorong oleh pelaksanaan system penjajahan yang dijalankan oeh Belanda sangat menyayat hati. Begitupun dalam dunia pendidikan, bangsa Indonesia sangat dikucilkan. Walaupun mendapat pendidikan yang sama tetapi penggajian dan kedudukan yang diberikan dari orang-orang Belanda.

 Orang-orang Indonesia hanya berstatus sebagai pembantu. Justru karena itu timbul reaksi dari tokoh-tokoh pendidik dalam bentuk pendirian sekolah-sekolah dan pusat pendidikan. Diantara sekolah-sekolah dan pusat-pusat pendidikan yang didirikan itu adalah :

 

a.Sekolah Adabiah ( Adabiah School ).

Sekolah ini didirikan di Padang pada tahun 1909 oleh Syekh Abdullah Ahmad. Di Sekolah ini telah diajarkan pengetahuan umum disamping pelajaran agama jenjang pendidikannya sama dengan HIS.

 

b.Madrasah School.

Berdiri pada tahun 1910 di Sungayang, Batu Sangka. Pendirinya adalah Syekh Muhammad Thaib Umar. Di sekolah ini diajarkan ilmu agama tingkat tinggi seperti mengenai Usuluddin, Tafsir, Nahu, dan lain-lain.

 

c.Madrasah Diniyyah ( Diniyah School ).

Sekolah ini didirikan di Padang Panjang oleh Zainuddin Labai El Yunusi pada tahun 1915. Jenjang pendidikannya sama dengan HIS. Karena Madrasah Diniyyah ini khusus untuk pria maka pada tahun 1923 saudara perempuan Zainuddin Labai El Yunusi yang terkenal dengan nama Rangkayo Rahma El Yunusi itu mendirikan pula sekolah yang khusus pula untuk wanita yaitu Madrasah Diniyyah Puteri yang sampai sekarang masih tetap berkembang. Sedangkan Madrasah Diniyyah Putra yang didirikan Zainuddin Labai terpaksa ditutup pada tahun 1935 karena tindakan tangan besi kolonialisme Belanda.


 d. Arabiah School.

Didirikan pada tahun 1918 di Ladang Laweh Bukit Tinggi. Pendirinya Ialah Syekh Abbas Ladang Laweh.

 

e. Sekolah Thawalib.

Sekolah tawalib dipelopori pendiriannya oleh Syekh Haji Abdullah Ahmad bersama Syekh Haji Abdul Karim Amarullah di Surau Jambatan Basi Padang Panjang semenjak tahun 1914. Pada tahun 1918 dikembangkan oleh Zainuddin Labai El Yunusi bersama Jalaluddin Thaib dan Inyiak Mandua Basa. Semenjak itu sekolah agam yang berpusat di Surau Jambatan Basi itu dinamai Thawalib.

Sistimatika pendidikan Sumatera Thawalib ini kemudian ditiru pusat-pusat pendidikan diberbagai daerah, sihingga bermunculan pula sekolah-sekolah Thawalib dimana-mana seperti :

+ Sumatera Thawalib Parabek Bukit Tinggi.

+ Sumatera Thawalib Padang Japang Payakumbuah.

+ Sumatera Thawalib Maninjau.

+ Sumatera Thawalib Batu Sangka dan lain-lain.

 

f. Sekilah Muhammadiyah.

Organisasi Muhammadiyah berdiri pertama kali di Jokyakarta pada tahun 1912 atas prakarsa Kiyai Haji Ahmad Dahlan, mulai tahun 1925 berkembang pula di daerah Minangkabau. Yang merintis pengembangan organisasi tersebut adalah Syekh Haji Abdul Karim Amarullah. Cabang Muhammadiyah pertama berdiri di Maninjau 1925 kemudian Padang Panjang 1925, Simabua 1925, Bukit Tinggi 1928, Payakumbuah 1928, Kurai Taji Piaman 1929, Padang 1930, Solok 1935 dan lain-lain di Minangkabau.

Bersamaan dengan perkembangan organisasi tersebut berkembang pula sekolah-sekolah yang dibina oleh Muhammadiyah. Sebagai organisasi social dan pendidikan telah banyak mendirikan sekolah-sekolah dalam berbagai tingkat di daerah ini, jenis sekolah tersebut antara lain :Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Sekolah Nagari, Sekolah Sambungan , HIS Muhammadiyah ( HIS met de Qur’an ), Sekolah Guru Muhammadiyah, Kulliyatul Mubalighin, Kweekschool Istri ( KSI ) dan Kulliyatul Mubalighat.

 

g. Sekoplah Permi.

Pada tahun 1930 Sumatera Thawalib berubah nama dengan Persatuan Muslimin Indonesia atas gagasan Haji Ilyas yakub, Muhammad Yamin dan Duski Samad. Peralihan nama menunjukan peningkatan gerakan dalam dunia politik, namun bidang pendidikan tetap mendapat perhatian. Untuk kelangsungan pendidikan sekolah-sekolah yaitu Tsanawiyah di Payakumbuah dan Bukit Tinggi serta Islamic College di Padang pada tahun 1931 tetap mebina lebih dari 50 buah Thawalib yang sudah ada dan tersebar di Minangkabau.

 

h. INS Kayutanam.

INS Kayutanam didirikan oleh Muhammad Syafei pada tanggal 31 Oktober 1926 untuk mendidik putera-putera bangsa yang sanggup berdiri sendiri dal;am kehidupannya, tidak menggantungkan nasib pada orang lain, apalagi kepada penjajah.

Di sekolah ini disamping diajarkan mata pelajaran umum yang bersipat intektualitis juga diajarkan mata pelajaran keterampilan.

Hingga dengan demikian setiap tamatan sekolah tersebut telah dapat hidup sendiri dan pada umumnya jarang yang mau bekerja sebagai pegawai, lebih-lebih lagi sebagai pegawai penjajah Belanda.

 

i. Sekolah Kerajinan Amai Setia.

Didirikan oleh Rohana Kudus pada tahun 1912 di Koto Gadang Bukit Tinggi. Di sekolah ini diajarkan berbagai kerajinan Wanita, bagaimana bersikap sebagai seorang Islam serta pelajaran membaca dan menulis dalam tulisan Arab dan Latin.

 

j. Taman Siswa.

Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantoro pada tanggal 3 Juli 1922 di Jokyakarta dengan  nama : National Onderwijs Institut taman Siswa, sejak 1932 mulai pula berkembang di Minangkabau. Pada tahp permulaan telah berdiri pula Taman Siswa di Sungai PUa, Batu Sangka, Bukit Tinggi, Payakumbuah, Padang, Piaman Kuraitaji, Talu dan Solok, kemudian berkembang pula ditempat-tempat lain.

k. Training College.

Training College berdiri di Payakumbuah pada tahun 1935. Tingkatan pendidikanya setingkat dengan pendidikan semi akademi. Yang diterima di perguruan ini ialah tamatan Aliyah ( SMA Islam ). Perguruan ini sengaja didirikan untuk membentuk kader pemimpin Masyarakat Minang yang berpengatahuan tingkat tinggi guna segera diterjunkan ke tengan masyarakat sehubungan dengan meningkatnya Pergerakan Kemerdekaan Indonesia.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dimasa penjajahan Belanda pendidikan di Minangkabau telah memperlihatkan pertumbuhan dan perkembangan  sekolah-sekolah dan perguruan kebangsaan yang sampai sekarang tetap berperan.

 


Education

PENDIDIKAN DI MINAGKABAU SEBELUM KEDATANGAN BELANDA.

A. Pendidikan Tradisional

 Yang dimaksud dengan pendidikan tradisional adalah pendidikan yang dilakukan turun temurun oleh seseorang kepada anak kemanakan atau kepada orang lain. Cara pendidikannya dilakukan dengan jalan praktek dan diajarkan secara lisan, seperti :

 1.Pendidikan Calon Penghulu.

 Seseorang yang akan diharapkan akan jadi Panghulu dalam suatu kaum mulai dari kecil telah diajar dalam seluk - beluk adat- istiadat Minangkabau oleh penghulu kaum tersebut. Diantara bentuk pelajaran yang diberikan sang Panghulu itu adalah mengenai kewajiban seorang Panghulu terhadap kaumnya atau anak kamanakannya, berapa jumlah Harato Pusako, dan dimana saja letaknya, pantangan seseorang Panghulu, silsilah kaum, bagaimana cara mengelola kaum beserta Harato Pusako itu dapat dipergunakan, Pidato Adaik, Patatah Patitih dan lain-lain. Bila sang calon telah mahir mengenai hal tersebut di atas berarti dia telah siap untuk menggantikan mamaknya sebagai Panghulu, bila mamaknya tersebut meninggal dunia. Biasanya pendidikan ini dilakukan malam hari di Surau atau di Galangang.

 

2.Pendidikan Adat Minangkabau Bagi Pemuda Perantau.

 Pemuda Minangkabau terkenal sebagai orang perantau. Hal demikian terjadi karena menurut adaik anak laki-laki di Minangkabau tidak memiliki apa-apa. Harato Pusako semuanya adalah hak kaum wanita. Justru karena itu anak laki-laki  Minangkabau banyak yang pergi  merantau, oleh mamaknya atau orang tuanya diajarkan mengenai seluk beluk adaik, cara hidup, cara berdagang, jadi buruh, sopan santun, cara mendekatkan diri kepada orang lain dan lain-lain. Setelah mereka memahami dengan baik baru lah mereka pergi merantau.

 

 3.Pendidikan Bela Diri

 Kepada pemuda / remaja diberi pendidikan bela diri yang terkenal dengan nama Silek. Siekt bela diri ini dipergunakan untuk membela diri dari serangan musuh. Pendidikan Silek bela diri ini dilakukan secara bersama-sama di kampuang-kampuang yang dipimpin oleh seorang guru silek. Pendidikan silek ini dilakukan di malam hari. Dalam melaksanakan pendidikan silek ini guru silek dibantu oleh seorang atau lebih guru tuo (guru tua). Bagi yang mencapai puncak kemahiran diuji oleh gurunya pada tempat yang tidak ditentukan di malam gelap, yang merupakan akhir pendidikan bagi yang bersangkutan.

 

 4.Pendidikan Pengobatan.

 Pada umumnya pendidikan pengobatan ini dilakukan terhadap anak-anak atau kamanakan dari tukang obek ( dukun ), namun tidak tertutup pintu untuk penuntut ilmu pengobatan tersebut bagi yang berminat serius asalkan dipenuhi syarat-syarat yang ditentukan seperti menyerahkan kain, pisau, beras dan lain-lain. Obat-obatan itu umumnya terdiri dari daun-daunan dan bacaan mantera atau doa.

 

 5.Pendidikan Tukang

Pendidikan tukang dilakukan melalui latihan dalam praktek pekerjaan yang sebenarnya. Bila seorang tukang mendapatkan borongan pekerjaan apakah membuat rumah, perabot, gerobak, dan lain-lain, maka tempat itulah yang akan dijadikan tempat melatih atau mendidik calon tukang yang berlaku sebagai pembantu dari tukang yang bersangkutan, tapi tidak jarang juga terdiri dari orang lain yang tidak termasuk keluarga atau family tukang tersebut.

 

 6.Pendidikan Sastera

Pendidikan sastera ini berupa pidato Adaik ( Pasambahan ), Bakaba, Pantun Adaik, dan Babaleh Pantun dilakukan pada umumnya dalam bentuk praktek. Dalam suatu upacara adaik atau Baralek dilakukan secara basisambah ( Pidato Adaik ) dengan bersahut-sahutan. Pemuda-pemuda yang hadir dalam acara itu sambil mendengar sekaligus menyimak dan mempelajari cara menyampaikan Pidato Adaik tersebut. Begitu juga dengan hal nya Pantun, Bakaba dan Babaleh Pantun umumnya dipelajari oleh para remaja hanya sambil mengikuti acara-acara adaik atau keramain lainnya.

 

Meskipun demikian tidak jarang juga diantara pemuda yang belajar khusus mengenai Pidato Adaik itu kepada seseorang yang mahir dan ahli dalam hal tersebut. Yang  mahir dalam pidato itu pada umumnya Panghulu-Panghulu yang sudah tuo atau orang-orang yang berbakat. Bekaba dan Babaleh Pantun dinyanyikan atau didendangkan  oleh para remaja untuk pelipur lara.

 

 

B. Pendidikan Islam

 Jauh sebelum kedatangan Belanda di Minangkabau ini, agama Islam telah berkembang baik di daerah pantai maupun di daerah pedalaman. Hal ini terjadi terutama sebagai akibat didukukinya kota pelabuhan Malaka pada tahun 1511 oleh Portugis. Akibat dari pendudukan tersebut,jalur perdagangan Islam tidak lagi melalui Selat Malaka. Mulai saat itu pedagang-pedagang Islam berlayar sepanjang pantai Barat pulau Sumatera dan mau tidak akan melalui dan singgah di negeri-negeri dan pelabuhan-pelabuhan sepanjang pantai Sumatera Barat.

 

Intersifikasi persebaran islam ke daerah ini semakin meningkat ketika kekuasaan Sultan Iskandar Muda dari Aceh itu mencapai puncak kejayaanya antara tahun 1607 -1637. Pada saat itu pantai Barat Sumatera dapat dikuasainya sampai ke Indopuro di Pesisir Selatan sekarang.  Hal ini memberi peluang sebesar-besarnya bagi penganut Islam untuk menyebar luaskan agama Islam tersebut. Sejak saat itu telah bermunculan pusat-pusat pendidikan Islam di daerah ini dalam bentuk Surau dan Masjid.

 Pada masa permulaan ini pendidikan Islam dilakukan secara sederhana, di Surau atau Masjid anak-anak belajar bersama-sama dengan duduak baselo mengelilingi sang guru. Guru memberikan pelajaran mengenai:

-Cara membaca Al-qur’an mulai dari membaca huruf sampai dengan membaca irama.

-Nahu, Syaraf, Fiqh, Tafsir, dan lain-lain.

 Cara pendidikan agam ini terkenal dengan istilah Halaqah. Sistem Halaqah ini bertahan sampai awal abad ke 20, bahkan sampai sekarang masih terdapat dimana-mana. Pada awal abad ke 20 timbul system baru dalam dunia pendidikan Islam disamping system itu yaitu berupa sekolah-sekolah agama yang menerapkan  sistim yaitu berupa sekolah-sekolah agama yang menerapkan system pendidikan Barat dengan memakai kelas, jadwal pelajaran beserta daftar mata pelajaran.

 Pendidikan model ini terkenal dengan nama Madrasah. Hasil dari pendidikan Islam ini baik memakai system halaqah maupun system Madrasah telah melahirkan tokoh-tokoh dan pelopor-pelopor pembaharu pendidikan Islam serta pejuang kemerdakaan.

 

 

 

 


Ke Beranda