Cek Harga Tiket Pesawat di Utiket
Domestic
Internasional
Layanan Pelanggan Via YM
  • Marketing :
  • Informasi :

Minang In Brief > Tambo Minangkabau

 

Tambo Minangkabau

1.TAMBO MINANGKABAU.

Tambo disebut juga dengan tarambo, berarti sejarah, babat, hikayat, riwayat kuno. Kata ini sama maknanya dengan kata babat dalam bahasa Jawa /Sunda. Kata Tambo  dan babat ini digunakan sebagai judul cerita prosa lama yang biasa disebut sastra sejarah atau historiografi tradisional (Kartodirjo 1968), penulisan sejarah menurut kepercayaan atau pandangan masyarakat setempat secara turun temurun.  Tambo Minangkabau (TM) adalah suatu karya sastra sejarah, suatu karya sastra yang menceritakan sejarah (asal-usul) suku bangsa, asal usul negeri dan adat istiadatnya yaitu Minangkabau.[]

2. RAJA dan NENEK MOYANG MINANGKABAU.

Sultan Sri Maharajo Dirajo, adalah raja Minangkabau yang pertama, diceritakan berasal dari Iskandar Zulkarnain. Iskandar Zulkarnain adalah anak bungsu Nabi adam. Oleh malaikat Iskandar Zulkarnain dinikahkan dengan bidodari dari surga yang diberi nama Puti Siri Alam. Dari perkawinannya itu Iskandar Zulkarnain memperoleh tiga orang putera. Ketiganya itu masing-masing menjadi rajo di tiga negeri : yang tua bernama Sultan Sri Maharajo Alif menjadi rajo di negeri Rum ( Turki ), yang tengah bernama Sultan Sri Maharajo Dipang menjadi raja di Negeri China, dan yang bungsu bernama Sultan Sri Maharajo Dirajo yang menjadi rajo di Minangkabau.

Sultan Sri Maharajo Dirajo datang ke Minangkabau pada tahun 323 sm atau sekitar abad 3-2 sm, Sultan Sri Maharo Dirajo dengan pengiringnya sampai pertama kali di puncak Gunuang Marapi. Maka Gunuang Marapi inilah asal mula Negeri Minangkabau dan Sultan Sri Maharaja Diraja yang menjadi nenek moyang orang Minagkabau yang pertama., Sultan Sri Maharaja Diraja membawa pengiring Harimau Campo, Kuciang Siam, Kambiang Hutan, dan Anjiang Mualim.

Penafsiran binatang yang dikemukakan di atas sebagai bukti adanya kepercayaan memuja hewan (totemisme) di Minangkabau pada waktu itu, hewan dianggap asal keturunan manusia. Pada bagian lain menafsirkan jenis hewan itu, yaitu Harimau Campo dari Negeri Campa, Kuciang Siam dari Negeri Kocin, Kambiang Hutan dari Negeri Cambay dan Anjiang Mualim dari India Selatan (Panghoeloe 1982:60/61

Rajo Minangkabau yang dalam Tambo disebut  Daulat Yang Dipertuan, diceritaka memiliki tanda kebesaran, seperti Emas senjata jati,kayu kamat, tenun sangsita, dan pedang curik semandang giri. Keturunan Daulat Yang Dipertuan ini tersebar dibeberapa negeri dan menjadi rajo disana, diantaranya hamper seluruh Sumatera, Nusa tenggara, Sulawesi,Semenanjung Malaysia,Singapura dan Philipina bagian Selatan.

Daulat Yang Dipertuan ini diceritakan kawin dengan Indo Jati dan berputera seorang, yaitu yang bergelar Datuak Katumangguangan. Setelah Daulat Yang Dipertuan meninggal, Indo Jati permaisuri Daulat Yang Dipertuan kawin dengan Cati Bilang Pandai dan memperoleh seorang anak yang diberi gelar Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Jadi Datuak Katumangguangan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang saudara satu ibu berlainan bapak.

3.CATI BILANG PANDAI.

Cati Bilang Pandai ini adalah bapak datuak Parpatih Sabatang. Cati Bilang Pandai  rakyat biasa saja, bukan keturunan raja. Ia diceritakan  sebagai orang yang pandai, terampil, dan banyak ilmunya. Sesuai dengan namanya, Cati berasal dari kata Sansekerta centri atau cetrya berarti kesatria, orang yang hebat, perkasa, dan dalam TM. Kepintaran pandai. Kata cati inibn dipertegas pula oleh kata berikutnya, yaitu bilang pandai, artinya orang yang terkenal karena pandainya.

Nama Cati Bilang Pandai ini banyak terdapat dan kebijaksanaanya dapat diketahui dari beberapa episode dalam TM. Cati Bilang Pandai bersama Datuak Suri dirajo memberi nama negeri Pariangan Padang Panjang. Negeri ini merupakan salah satu pusat kerajaan Minangkabau. Sewaktu balai adat akan didirikan, kepadanyalah daulat yang Dipertuan member titah membuat balai adat itu.

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, balai adat ini adalah tempat membicarakan masalah adat. Pendirian balai adat ini dimaksudkan sebagai tanda bahwa adat sudah berdiri di Minangkabau. Cati Bilang Pandai mengangkat penghulu-penghulu Minangkabau supaya adat ini dipakai dan dipatuhi oleh masyarakat. Penghulu itu adalah pemimpin masyarakat berdasarkan adat. Salah satu ketentuan adat yang ditetapkan oleh Cati Bilang Pandai adalah warisan harta pusaka. Cati Bilang Pandai menetapkan harta pusaka diwariskan kepada kemenakan. Hal lain yang dilakukan oleh Cati Bilang Pandai adalah memperluas daerah.

 4. DATUAK SURI DIRAJO.

Datuak Suri Dirajo diceritakan  dalam TM sebagai  mamak (paman , saudara laki-laki ibu) Datuak Katumanggungan  dan Datuak Parpatih Sabatang.Mereka memegang teguh  nasihat Datuak Suri Dirajo. Datuak Suri Dirajo sebagai mamak kedua tokoh sentral ini diceritakan sebagai orang yang bijaksana, tempat orang bertanya, dan minta nasihat. Dalam peristiwa datangnya orang seberang hendak menguji kepintaran orang Minangkabau berupa teka-teki kepadanyalah  orang minta nasihat dan pendapat.

Orang-orang dari seberang laut yang dipimpin oleh Nahkoda Besar itu rupanya belum puas menguji kepintaran orang Minangkabau. Mereka datang kembali dengan teka-teki unggas. Berkat petunjuk yang diberikan oleh Datuak Suri Dirajo, orang-orang yang datang dari laut itu dapat dikalahkan oleh orang Minangkabau dengan mudah. Mereka memuji kepintaran orang Minangkabau. Mereka merasa malu dan berjanji tidak mau datang lagi ke Minangkabau.

Dalam system kekerabatan masyarakat masyarakat Minangkabau yang materilinial  itu, mamak memegang peranan penting mengatur urusan keluarga dalam sukunya, khususnya membimbing kemanakannya. Harta pusaka yang dipakai oleh mamak, menurut adat Minangkabau, harus diwariskan kepada kemanakan. Mamak harus member nasihat kepada kemanakan. Sebagai mamak, Datuak Suri Dirajo ini banyak memberikan nasihat kepada kemanakannya Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatih Sabatang.

5.  INDO JATI.

Ibu Datuak Katumanggungan  dan Datuak Parpatih Sabatang ialah Indo Jati. Asal usul Indo Jati ini tidak begitu jelas diceritakan. Nama ini muncul dua kali dalam Tambo Minangkabau : pertama, tatkala Iskandar Zulkarnain akan turun dari atas langit maka dikeluarkan Allah anak Indo Jati. Selanjutnya diceritakan, Daulat yang Dipertuan kawin dengan Indo Jati dan lahirlah seorang anak laki-laki yang kemudian bergelar Datuak Katumanggungan. Kemudian Indo Jati kawin lagi dengan Cati Bilang Pandai, berputra dua orang anak laki-laki dan empat orang perempuan, satu diantaranya kemudian bergelar Datuak Parpatih sabatang.

Indo Jati bukanlah orang biasa. Ia putri keindraan, sesuai dengan namanya Indo Jati, yang berarti Indra Sejati, dan keterangan yang mengatakan bahwa Allah yang mengeluarkanya dari alam surga. 

6. DATUAK KATUMANGGUANGAN  dan DATUAK PARPATIAH NAN SABATANG.

Menurut Tambo Alam Minangkabau dan carito orang tuo- tuo, setelah dewasa anak niniak Sultan Sri Maharajo Dirajo yang bernama Sutan Paduko Basa dan anak Cati Bilang Pandai bernama Sutan Balun dan Sikalab Dunia, atas kesepakatan anak nagari Pariangan Padang Panjang dan anak nagari Sungai Tarab, diangkat menjadi penghulu.

Sutan Paduko Basa bergelar Datuak Katumanggungan, Sutan Balun bergelar Datuak Parapatiah Nan Sabatang, dan Sikalab Dunia bergelar Datuak Sri Maharajo Nan Bamego Mega. Beliau beliau itulah penghulu niniak kito, yang sangat cerdik pandai, lubuk akal lautan budi, lagi keramat katiganyo. Beliau bertiga menata adat lembaga untuk kita orang Alam Minangkabau. Kata ahli adat, setelah Sutan Balun diangkat jadi penghulu, beliau pergi berlayar keluar Pariangan Padang Panjang, hendak pergi tamasya ke pulau Langgapuri (Serindip Cylon). Dalam perjalanan kembali pulang, ditengah lautan beliau mendapat sebatang kayu yang berisi lengkap didalamnya segala perkakas untuk pertukangan seperti kapak, ladiang, pahek dan parpatiah.

Oleh sebab itu dia digelari Datuk Perpatih Nan sabatang Kayu, kemudian ditetapkan dengan Datuk Perpatih Nan Sabatang saja. Adapun kayu yang berisi alat perkakas ditemukannya itu berasal dari peninggalan nabi Nuh. Perkakas itu diletakkan orang dalam lobang sebuah pohon kayu dan hanyut ke laut. Dengan karunia Allah kayu itulah yang didapatkan oleh Datuk Parapatiah Nan Sabatang. Benar atau tidaknya cerita ini wallahu ‘alam. Diceritakan kembali, sesudah niniak yang batigo itu diangkat orang jadi penghulu, semenjak itulah beliau berusaha mencari ikhtiar memperbaiki nagari dan memperluas jajahan di tanah Alam Minangkabau serta berusaha membuat bermacam macam aturan adat lembaga yang akan dipakai orang didalam Nagari yang telah beliau dirikan itu, untuk penjaga kesentosaan dan keselamatan orang yang berada didalam nangari.

Adaik limbago yang beliau tinggalkan menjadi pegangan bagi masyarakat Minangkabau sampai sekarang, adaik limbago itu amat baik dan sempurna aturannya, tidak dapat disanggah oleh jauhari pun, mempunyai akal budi yang sempurna. Bila ada orang yang merubah atau merusak warisan beliau itu, tak dapat tidak pastilah mendatangkan kesusahan dan kerugian besar bagi dirinya serta bagi segala orang di dalam nagari sampai kepada anak cucunya. VII. Nagari Limo Kaum Kata ahli adat, pada suatu ketika niniak Parpatiah Nan Sabatang bersama lima pasang suami istri berlayar keluar dari nagari Pariangan Padang Panjang menuju tanah lapang yang ditumbuhi rimba berkampung kampung.

Di situ kelima pasang tadi mencencang malateh membuat ladang dan dusun tuo. Disitu niniak Parapatiah Nan Sabatang membuat rumah dibawah kayu Bodi Nago Taram, kemudian dibuatnya pula sebuah balai di dusun tuo itu yang berparit dan berpagar batu. Sebab itu balai tadi dinamakan balai batu, lalu dibuat pula sebuah kubu dibaruah dusun tuo tadi, yang dinamai Kubu rajo. Lama kelamaan berkembang pula orang yang lima pasang tadi. Karena orang sudah ramai dibuat pula lima buah kampuang saedaran dusun tadi, yang bernama Kampuang Balai Batu, Kampuang Kubu Rajo, Kampuang Balah Labuh, Kampuang Dusun Tuo (Koto Gadih) dan Kampuang Kampai (Piliang).

Kelima kampuang ini akhirnya dinamakan Kampuang Limo Kaum. Kemudian menyusul pula dua belas pasang suami istri dari Pariangan Padang Panjang yang dipimpin oleh seorang Penghulu yang bergelar Datuk Tan Tejo Maharajo Nan Gadang. Panghulu badanya besar dan panjang kira kira sepuluh hasta panjangnya. Sampai sekarang masih ada kubur beliau di kampuang Pariangan, yang dikenal juga dengan kubur Datuk Tan Tejo Gurahano. Mereka sampai di nagari yang bernama Jambu sekarang ini dan tidak dapat melanjutkan perjalanannya ke nagari Limo Kaum karena tidak ada jalan kesana.

Lalu berkata Datuk Tan Tejo kepada orang yang dibawanya itu, katanya : “Kaniaklah (Kemarilah) kita berbalik” lalu surutlah mereka kembali sampai kesebuah dusun yang mereka beri nama Keniak. Rupanya yang dimaksud dengan “ka niak” oleh Datuak Tan Tejo tadi adalah kampung tabek sekarang ini. Disitu mereka berladang dan membuat taratak. Datuak Tan Tejo membuat sebuat tabek gadang, lalu dibuat orang pula setumpak sawah dekat tabek nyo itu dan di mudiak sawah itu dibuat pula sebuah taratak, lama kelamaan taratak menjadi dusun dan dusun menjadi kampuang pula, yang bernama Kampuang Sawah Tangah.

Akhirnya kedua belas pasang itu terbagi dua. Sebagian tinggal bersama beliau dikampuang Tabek dan sebagian lagi menetao dikampuang Sawah Tangah. Lama kelamaan berkembang pula orang dikampung Tabek dan kampuang Sawah Tangah itu. Datuk Tan Tejo mendirikan sebuah balai dikampaung Tabek yang tonggaknya dari tareh jilatang dan parannyo dari aka lundang, sedang tabudnya dibuat dari batang puluik- puluik, nan dikabek jo jangek tuma dan gandangnyo dari padang seliguri. Itulah keganjilan yang dibuat oleh Datuk Tan Tejo Maharajo Nan Gadang.

Sampai kini tonggak jilatang dan gandang saliguri masih ada di Kampuang Tabek dan Kampuang Sawah Tangah. Selanjutnya karena telah berkembang kampung Tabek dan Kampuang Sawah Tangah dijadikan orang menjadi sebuah nagari yang bernama Nagari Tabek Sawah Tangah.

Oleh karena Nagari Tabek Sawah Tangah itu menjadi ramai dan sesak pula, mamak pecahan orang orang yang dua belas tadi pergi berladang merambah rimba kecil di kepala dusun tuo tempat niniak Parapatiah Nan Sabatang tadi, tempat itu dinamai orang Parambahan. Dari parambahan itu dibuat sebuah labuah arah ke kubu rajo, tetapi mereka tidak berhasil karena terlalu susah, jalan mendaki dan menurun serta berbelok belok.

Dan labuh itu diberi nama Taratak Labuah. Karena telah menjadi ramai pulang orang di Taratak Labuah, Parambahan dan Tabek Sawah Tangah mereka pun semakin berkembang dan telah menbuat XII Koto disekitar nagari Limo Kaum. Kedua belas Koto itu menurut penitahan niniak Parapatiah Nan Sabatang, yaitu : 1. Labuah 2. Parambahan 3. Silebuk 4. Ampalu 5. Cubadak 6. Sianyang 7. Rambatan 8. Padang Magek 9. Ngungun 10. Panti 11. Pabaluran 12. Sawah Jauah. Lama kelamaan Koto Nan Duobaleh ini ramai pula.  Oleh ninik Parapatiah nan Sabatang ke duo baleh koto ini sampai ke Tabek Tangah Sawah dijadikan satu dengan orang yang berada di Limo Kaum dengan nama Limo Kaum Dua Baleh Koto. Kemudian dipecah lagi menjadi Limo Kaum Duo Baleh Koto dan Sambilam Koto Didalam.

Adapun koto nan sambilan itu ialah dua-dua satu bilang : Tabek Bata dan Salo Gonda; Baringin dan Koto Baranjak; Lantai Batu dan Bukik Gombak; Sungai Tanjuang dan Barulak serta Rajo Dani. Oleh Ninik Parapatiah Nan Sabatang masyarakat nagari Limo Kaum Nan Duo Baleh Koto itu sampai ke Tabek Sawah Tangah diberi pula satu pucuk pimpinan yaitu Penghulu dengan gelar Datuk Bandaharo Kuniang, berkedudukan di Kubu rajo Limo Kaum. Setelah teratur nagari Limo Kaum Duo Baleh Koto itu, maka senanglah Hati Niniak Parapatiah Nan Sabatang dan beliau kembali ke Pariangan Padang Panjang. []


Ke Beranda